Senin, 24 Desember 2012

MENTAN Canangkan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional

MENTAN Canangkan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional

Bertempat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, 24 Nopember 2009, yang lalu Menteri Pertanian Ir.Suswono, MMA melakukan “Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional”.  Acara ini antara lain dihadiri oleh para pimpinan daerah penerima bantuan kegiatan pengembangan agroindustri tepung-tepungan, Ibu-ibu penggerak PKK, Gapoktan, pelaku usaha tepung dan undangan lainnya.

Mengawali sambutannya, Menteri Pertanian mengatakan bahwa Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional ini sangat strategis dalam upaya mendorong peningkatan pembangunan agroindustri tepung-tepungan nasional, terutama peningkatan produksi tepung fermentasi yang saat ini mulai kembali digemari oleh masyarakat. Pencanangan ini diharapkan dapat mengawali peningkatan tambahan produksi tepung sekitar 20% dari kebutuhan impor nasional selama lima tahun ke depan. Mentan menjelaskan bahwa pada tahun 2008, impor gandum kita mencapai 5,2 juta ton.

Sedangkan dari 22,7 juta ton produksi ubi kayu, yang diolah menjadi bahan pangan dan non pangan baru mencapai 22,3% atau setara dengan 4,6 juta ton ubikayu segar. Hal ini berarti peluang pasar untuk tepung dari ubi kayu masih cukup besar.

Untuk mendukung kemandirian pangan dan daya saing produk lokal tersebut, pemerintah telah memberlakukan pengetatan pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan melalui PERMENTAN No. 27 Tahun 2009 yang berlaku efektif sejak 19 Nopember 2009. Dengan diberlakukannya peraturan ini, maka komoditas impor yang tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan serta tidak aman untuk dikonsumsi, ditolak masuk ke Indonesia.  Adapun komoditas yang terkena peraturan ini antara lain gandum, jagung, kacang-kacangan dan beberapa serealia lainnya.

Komitmen Pemerintah dalam mengembangkan pangan nonberas, antara lain melalui berbagai kebijakan seperti mendorong diversifikasi pola konsumsi berbasis pangan lokal; meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap keanekaragaman pangan; dan mendorong pengembangan teknologi pengolahan pangan non beras dan non terigu. Adapun beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendorong industrialisasi tepung cassava antara lain berupa pemberikan stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha kecil bidangpangan; sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan pangan lokal melalui tepung-tepungan; pemberian peralatan pengolahan tepung-tepungan kepada usaha kecil bidang pangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung yang dihasilkan; mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam meneruskan sosialisasi dan pengembangan teknologi tepung-tepungan; dan terus mengupayakan pencitraan tepung cassava menjadi tepung nasional.

Pada kesempatan kunjungan kerja tersebut, Mentan menyerahkan sarana pengolahan tepung, antara lain berupa peralatan, starter(inokulan) fermentasi dan sarana bangunan secara simbolis kepada para bupati yang wilayahnya mendapat alokasi bantuan pada tahun anggaran 2009.

Menteri Pertanian juga menegaskan, kita harus mampu mempertahankan keberhasilan swasembada beras, dan kesanggupan negara kita memenuhi sebagian dari permintaan beras internasional, sekaligus menjadikan momentum ini untuk mencapai keberhasilan dalam upaya pengembangan agribisnis ubi kayu, khususnya di bidang pengolahan dan pemasaran hasil yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sentra-sentra produksi ubi kayu.

Mengakhiri kata sambutannya, Menteri Pertanian menegaskan pentingnya sinkronisasi dan sinergitas berbagai pihak yaitu antara pemerintah, petani, industri dan pelaku bisnis, pakar, peneliti, asosiasi, akademisi dan pihak-pihak terkait lainnya, akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan agribisnis tepung-tepungan.

Sumber : http://gakoptri.wordpress.com/2009/12/02/mentan-canangkan-percepatan-produksi-tepung-fermentasi-dan-deklarasi-kemandirian-tepung-nasional/

Kamis, 26 April 2012

Beragam Kue dari Tepung Mocaf

Beragam Kue dari Tepung Mocaf

Ada yang unik di pelataran parkir depan Kantor Gubsu, Jalan Pangeran Diponegoro Medan, kemarin (6/5). Ada 10 stand yang disediakan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Sumatera Utara sebagai tempat demo masak.
Kali ini yang jadi bahan masakannya yakni tepung mocaf yang berasal dari ubi  kayu. Tepung mocaf ini diolah menjadi kue, roti dan sebagainya sebagai bahan subtitusi pengganti beras.

Demo masak itu diikuti oleh sejumlah restoran-restoran ternama di Medan. Salah satunya adalah FB (Food and Beverage) Restaurant. Restoran yang menjadi ikon Hotel Semarak Medan tersebut, menyajikan pembuatan bolu serta roti dengan menggunakan bahan baku mocaf. Kepala FB Restaurant

Aris mengatakan, mocaf bisa dijadikan bahan makanan pengganti beras. “Saat ini masyarakat masih mengedepankan beras sebagai bahan makanan pokok. Namun, sebenarnya Mocaf juga layak dijadikan sebagai bahan makanan pokok,” ujarnya.

Kenapa bisa dijadikan bahan makanan pokok? Aris menjelaskan, misalnya seseorang yang sedang lapar, tapi sedang tidak ingin makan nasi. Orang yang lapar tersebut bisa merujuk ke tepung mocaf. “Pastinya setelah diolah menjadi bentuk makanan seperti, roti atau kue. Lagian, kenyangnya pun sama dengan makan nasi,” lanjut Aris.

Sementara itu, Sakirin Chef FB Restaurant menjelaskan, seperti tepung-tepung lainnya, ketika diolah menjadi satu jenis makanan terkadang bisa bantat (tidak mengembang, red). “Dalam pengolahannya tepung mocaf dicampur dengan tepung terigunya sehingga tidak menimbulkan bantat, namun perbandingannya jelas lebih banyak tepung mocaf,” jelas Sakirin.

Sebelum melihat demo masak, terlebih dahulu digelar sosialisasi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal di Aula Martabe lantai III Kantor Gubsu. Acara yang diikuti 300 peserta itu dibuka Sekdaprovsu DR RE Nainggolan serta dihadiri Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI Prof Dr Achmad Suryana, MS dari Jakarta, serta undangan lainnya.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara Setyo Purwadi mengatakan, saat ini memang tepung mocaf diproduksi dari Trenggalek Jawa Timur, namun ke depan tepung mocaf sendiri akan diproduksi dari Sumatera Utara. “Kita tahu di Sumut yang namanya ubi kayu mudah tumbuh. Inilah yang nantinya kita oleh menjadi tepung mocaf sebagai bahan pangan,” ungkap Setyo Purwadi.

Dia juga mencontohkan kue yang dibagikan kepada peserta sosialisasi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal ini juga terbuat dari tepung mocaf. “Jadi sudah kami buktikan terlebih dahulu, mau jelasnya nanti kita lihat saat demo masak,” ungkap Sertyo Purwadi.
Sementara itu, saat demo berlangsung Sekdaprovsu DR RE Nainggolan, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian Prof Dr Achmad Suryana, MS dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumut Setyo Purwadi ikut ikut mencicipi makanan saat demo masak. Mereka menikmati makanan yang terbuat dari tepung mocaf tersebut.(mag-13/dra)


Sumber : http://www.hariansumutpos.com/arsip/?p=44446

Membuat Cake dan Brownies dengan Tepung Mocaf

Pembuatan Cake dan Brownies Berbahan Dasar Tepung Mocaf

Program pembuatan cake dan brownies dari tepung mocaf ini adalah salahsatu program yang mendukung kemajuan perekonomian masyarakat di desa Pamekaran. Program ini sendiri merupakan program yang disusun sebagai program dosen pembimbing lapangan. 
Peserta dari penyuluhan pembuatan cake dan brownies ini adalah ibu-ibu PKK karena dinilai cukup representatif di Desa Pamekaran ini. Peserta kegiatan ini terdiri ibu-ibu terdiri dari dusun I (Cikondang), Dusun II (Cimacan), dan Dusun III (Cikeusik).

Program ini diadakan di kantor  desa yang terletak di Dusun II (Cimacan). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat desa Pamekaran khususnya ibu-ibu di desa Pamekaran dalam mengolah hasil pertanian mereka khususnya ubi dan singkong menjadi berbagai cake dan brownies dengan menggunakan tepung mocaf (tepung yang terbuat dari ubi/singkong).

Kami berharap dengan meningkatnya kemampuan ibu-ibu dalam mengolah ubi/singkong menjadi berbagai macam kue dan brownies dapat membuka peluang usaha baru di Kecamatan Rancakalong ini , khususnya di Desa Pamekaran.

Sumber : http://blogs.unpad.ac.id/pamekarankknm2012/



MOCAF SUPER CEPAT

MOCAF SUPER CEPAT



LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, Membuatan tepung Mocaf sebetulnya bisa lebih cepat asal pengirisan ubi kayu tipis-tipis, agar bioaktivator M-BIO mudah mengeluarkan zat-zat yang mengganggu terhadap kualitas tepung Mocaf. pengalaman kami malah hanya 0,5 jam lalu cucu bersih dan jemur sudah dapat membuat kue dan mie yang kaya karbohidrat Tinggal tambah protein dan mineral lainnya. Maka jadilah makanan yang Lezat.... Caranya ? Lihat blog yang lain...



MOCAF SUPER CEPAT, SIAPA PERCAYA, hanya yang sudah melaku


























BAGAIKAN KECEPATA PELARI DUNIA

BAGAIKAN KECEPATA PELARI DUNIA



Sumber : http://mocaftercepat.blogspot.com/



Usaha Tepung Mocaf Tanpa Limbah

Usaha Tepung Mocaf Tanpa Limbah

Sticker kemasan tepung mocaf
 
Membuat tepung terigu sekarang tidak hanya bisa terbuat dari gandum tapi ternyata bisa juga dibuat dari fermentasi singkong. Namanya sekarang populer dengan 'Tepung Mocaf' atau modified cassava flour hasil penelitian pertama dari Dr. Achmad Subagio staf pengajar di Universitas Negeri Jember Jawa Timur. Hanya tepung terigu ini tidak ada glutennya seperti halnya tepung terigu yang dari gandum. Tapi dengan tidak adanya gluten ini, justru tepung mocaf baik untuk anak-anak penderita autis. Tidak hanya itu. Tepung mocaf sudah terbukti sebagai bahan pangan yang bisa dipakai untuk bahan baku membuat segala macam jajanan pasar, roti, biscuit, brownies, mie dll hampir seluruh makanan yang biasanya dibuat dari tepung terigu, bisa digantikan dengan tepung mocaf (hampir 100%).

Bahan baku singkong tersedia melimpah dan murah diseluruh Indonesia. Karena singkong mudah ditanam disemua jenis tanah yang ada diseluruh pelosok Nusantara. Selama ini hasil panen singkong lebih banyak dibuat gaplek  dari pada diolah menjadi bahan baku setengah jadi atau produk lain yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi. Padahal teknologi fermentasi atau mengolah singkong menjadi produk lain, misalnya menjadi tepung mocaf tidaklah sulit. Ditingkat petanipun bisa melakukan produksi tepung mocaf  sendiri didesa ybs tanpa perlu datang kekota besar. Yang perlu dibawa ke kota besar adalah produk jadinya yaitu tepung mocafnya. Bukan bahan bakunya atau proses produksinya tapi sekali lagi hasil produknya yang dibawa kekota. Walaupun tepung mocaf itu sendiri juga laku didesa setempat. Sebenarnya tergantung tingkat produksinya. Kalau kecil, cukup dijual didesa setempat saja pasti laku.
 
Kebutuhan tepung-tepungan bahan pangan di Indonesia, sangatlah besar. Contohnya kebutuhan (import) tepung terigu sekarang sudah jutaan ton dan terus meningkat setiap tahun. Kalau kebutuhan import tepung terigu tsb 30% bisa digantikan tepung mocaf dalam negeri, alangkah besarnya kebutuhan tepung mocaf didalam Negeri dan alangkah besarnya sumbangan penghematan devisa yang bisa dilakukan oleh tepung mocaf untuk Negara. Disamping itu akan tercipta peluang wirausaha membuat tepung mocaf secara mandiri yang yang otomatis bisa menyerap ribuan bahkan mungkin ratusan ribu tenaga kerja ditingkat Desa. Sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat urbanisasi para tenaga kerja muda ke Kota.


Kemasan tepung mocaf ukuran kecil
 
Memproduksi bahan pangan (tepung mocaf) tidak perlu khawatir tidak laku dijual. Penduduk Indonesia semakin tahun terus semakin meningkat dan   pasti butuh pemenuhan bahan pangan. Apalagi tepung mocaf bukan barang yang mudah basi. Bisa digudangkan selama 1 tahun bila dikemas dengan baik dalam kemasan hampa udara (dengan vacum sealer). Sehingga layak untuk di-export keluar negeri yang bisa mendatangkan devisa (bukan malah mengeluarkan devisa).

Dengan terciptanya peluang usaha tepung mocaf, diharapkan dapat membantu meningkatkan harga jual singkong ditingkat petani yang selama ini dihargai sangat rendah. Sehingga para petani dapat ikut tersenyum merasakan hasil panen yang lebih baik. Tanah-tanah kosong atau lahan tidur yang selama ini banyak dibiarkan terlantar, bisa diolah untuk ditanami singkong unggul. Tidak dibiarkan menjadi lahan yang tidak produktif. Sayang sekali kalau terus dibiarkan. Padahal lahan kosong kalau dibiarkan terus menerus tidak ditanami dengan tanaman produktif, akan menjadi kurus dan keras karena kekurangan unsur organik.

Pembuatan tepung mocaf dalam skala kecil maupun besar memang perlu memikirkan limbah fermentasinya secara serius agar tidak menganggu lingkungan. Limbah cair fermentasi kalau dibuang ke sungai atau pada lahan terbuka lainnya, bisa mencemari udara (bau) dan mencemari air sumur karena adanya kandungan asam sianida walaupun kecil. 

Namun sekarang sudah ditemukan manajemen cara membuat tepung mocaf yang tanpa limbah. Karena semua limbahnya dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk turunan yang bisa menghasilkan uang berlipat-lipat. Baik limbah padatnya maupun limbah cairnya. Limbah cairnya bisa dijadikan bahan dasar pembuatan Nata De Mocaf dll. Sedangkan limbah padatnya bisa untuk makanan ternak kambing unggul yang sangat menguntungkan.

Limbah Cair dari fermentasi mocaf
 
Untuk memulai usaha memproduksi tepung mocaf tanpa limbah tidak perlu dengan modal besar dan lahan yang luas. Cukup dengan uang 2 jutaan dan lahan 20 M2 dibelakang rumah sudah bisa menghasilkan 1 kwintal tepung mocaf per minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar setempat. Cocok bagi masyarakat umum yang modal awalnya pas-pasan. Atau untuk para Pemuda yang sudah bosan jadi pegawai kontrakan/outsourcing. Silahkan alih profesi mulai sekarang. Apabila ada yang ingin berdiskusi tentang tepung mocaf, tinggalkan komentar dibawah ini atau kirim email ke mocaf.terpadu@gmail.com


Sumber : http://www.paketusahamenjanjikan.com/2011/09/blog-ini-masih-dalam-perbaikan.html

Selasa, 25 Januari 2011

Ny. Sadjilah, KTNA dari DKI Jakarta - Mengolah Tepung "MOCAF" sebagai Pengganti Terigu

Ny. Sadjilah, KTNA dari DKI Jakarta - Mengolah Tepung "MOCAF" sebagai Pengganti Terigu

Dalam upaya pelaksanaan diversifikasi pangan agar tidak tergantung kepada beras dan tepung terigu, masih banyak komoditi lainnya sebagai substitusi. Di antaranya ubi kayu atau singkong, ubi jalar, talas, suweg, ganyong, gadung, gembili, jagung dan lain-lain.

Untuk setiap 100 gram umbi-umbian memiliki kandungan 75% BBD (bagian yang dapat dimakan), 146 kal energi, 1,2 gram protein dan 0,39 gram lemak. Oleh karena itu mengingat mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, umbi-umbian sebagai pangan tambahan atau substitusi beras dan terigu dapat disajikan kepada masyarakat dalam bentuk olahan yang menarik dan enak rasanya, serta murah harganya.

Pengganti Terigu
Bahan baku terigu sebagian besar tergantung dari luar negeri, sehingga dikhawatirkan akan terjadi ketergantungan. Upaya mengantisipasi pengganti terigu telah dilaksanakan oleh INKOPTAN (Induk Koperasi Tani) dengan memproduksi MOCAF (Modified Cassava Flour) yang kini sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Tepung ubi kayu yang dikenal dengan nama MOCAF tersebut adalah produk turunan dari ubi kayu yang menggunakan prinsip modifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Tepung MOCAF memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi dan kemudahan melarut.

Dengan melihat sepintas saja secara fisual nampak perbedaan yang nyata dalam hal warna maupun aroma. Tepung MOCAF berwarna lebih putih dan berbau netral (tidak berbau apek khas ubi kayu), sehingga dapat menggantikan posisi terigu. “Ternyata harga MOCAF Rp. 5.500/kg, sedangkan terigu Rp. 7.000/kg sehingga lebih murah”, kata Sadjilah, KTNA dari DKI Jakarta, seorang petani pengolahan hasil pertanian yang memproduksi kue-kue dari bahan baku MOCAF.

Beralih ke MOCAF

Menurut Sadjilah yang asli Yogyakarta dan dikaruniai 3 orang putri, usaha pembuatan kue dengan bahan baku MOCAF telah dimulai sejak 1 tahun. Semula kue yang diproduksi mempergunakan tepung terigu namun karena harga bahan bakunya mahal beralih ke MOCAF dengan membeli dari INKOPTAN. Ternyata dengan mempergunakan bahan baku dari dalam negeri di samping harganya lebih murah dapat membantu petani singkong dari berbagai daerah yang diolah INKOPTAN.

Sumber : http://www.sinartani.com/kontaktani/ny.-sadjilah-ktna-dki-jakarta-mengolah-tepung-quotmocafquot-sebagai-pengganti-terigu-1228189015.htm


Jumat, 22 Januari 2010









Mocaf: Fermentasi 1 Jam

Sumber : Majalah Trubus

Istanbul, Turki, pertengahan Desember 2009. Daniel Gyurta, perenang berkebangsaan Hungaria, mencetak rekor dunia baru renang 200 m gaya dada putra dengan catatan waktu 2 menit 00,67 detik. Itu lebih cepat 1,31 detik di banding rekor perenang Australia, Christian Sprenger, 5 bulan sebelumnya. Makin ringkasnya waktu juga terjadi pada proses fermentasi mocaf. Jika semula butuh 7 - 8 jam, kini cukup 1 jam.

Proses fermentasi modified cassava flour (mocaf) selama 7 - 8 jam melibatkan 3 kali penambahan bakteri alias enzim. Enzim pertama berfungsi menetralisir air agar nyaman bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak. Enzim kedua, berfungsi merombak pati dan dinding sel singkong. Sementara enzim ketiga bertugas menghentikan fermentasi. Ada juga proses yang hanya memanfaatkan 1 kali penambahan bakteri, tapi waktu fermentasi relatif sama: 7 - 8 jam.

Di tangan Ir Iskandar Mamoen MS, periset di Departemen Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat, proses fermentasi mocaf lebih cepat, cukup 1 jam. Penambahan mikroba, Iskandar menyebutnya bioaktivator, pun cukup sekali. Iskandar yang meriset pemanfaatan bioaktivator untuk proses fementasi mocaf sejak Maret 2009, menyebut tepung buatannya itu sebagai motes alias modifikasi tepung singkong.


Peran enzim selulase

Iskandar menggunakan bioaktivator berupa kumpulan beberapa spesies mikroba. Sebut saja Lactobacillus sp, selubizing phospate bacteria - bakteri pelarut fosfat, Azetobacter sp, dan ragi. Iskandar enggan menyebutkan asal isolasi bakteri itu. Mikroba-mikroba itu menghasilkan asam laktat yang berperan dalam meningkatkan proses dekomposisi atau pemecahan lignin dan selulosa. Selain asam laktat, bioaktivator menghasilkan enzim selulase.

Prof Ir Haryadi MAppSc PhD, guru besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menduga percepatan fermentasi menjadi 1 jam karena adanya enzim selulase itu. Enzim itu berperan mendegradasi selulosa yang membungkus pati ubikayu. 'Kombinasi asam laktat dan enzim selulase memungkinkan proses fermentasi terjadi dalam waktu 1 jam,' ungkap Haryadi.

Tanpa pemecahan selulosa, proses pengolahan singkong sekadar menghasilkan tepung gaplek. Aroma singkongnya pun masih menyengat. Dengan fermentasi menggunakan asam laktat tidak hanya didapat mocaf yang bertekstur halus - karena selulosa hancur - tapi juga aroma singkong hilang dan warna tepung putih.

Sementara menurut Dr Achmad Subagio MAgr dari Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Jawa Timur, proses fermentasi mocaf selama 1 jam tak memungkinkan. Musababnya mikroba yang dipergunakan tak bisa langsung bekerja mendegradasi selulosa. 'Mikroba mulai bekerja setelah 3 - 4 jam. Pada 1 jam pertama mikroba mirip bayi belum bisa beraktivitas,' ungkap doktor kimia pangan alumnus Osaka Prefecture University itu.

Hasil riset Iskandar menunjukkan pemakaian bioaktivator untuk pembuatan tepung mocaf selama ?? jam tak memberikan hasil optimal. 'Ketika digiling, serat singkong masih banyak yang panjang dan kasar,' ungkap Iskandar. Serat belum terdegradasi sempurna oleh mikroba. Perlakuan lebih dari 1 jam menyebabkan singkong terlalu lembek sehingga tak layak dijadikan tepung.

Rendemen naik

Tak hanya waktu fermentasi yang lebih singkat, jumlah rendemen pun meningkat menjadi 40%, sebelumnya 30 - 33%. Biasanya untuk menghasilkan 1 kg tepung mocaf diperoleh dari 3 kg singkong. 'Dengan bioaktiviator, 1 kg tepung mocaf cukup dihasilkan dari 2,5 kg singkong yang telah dikupas,' ungkap Iskandar. Untuk fermentasi 1 ton singkong segar cukup dibutuhkan 1 liter bioaktivator seharga Rp35.000. Menurut Dr Solihin dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang, Jawa Timur, kadar air singkong saat panen menentukan rendemen tepung mocaf. Semakin tinggi kadar air maka rendemen mocaf semakin rendah.

Proses fermentasi yang lebih cepat dan rendemen meningkat pada gilirannya berpengaruh pada biaya produksi. Jika pada proses fermentasi 7 - 8 jam menghabiskan biaya Rp2.500 - Rp3.000 untuk menghasilkan 1 kg mocaf, maka pada pada fermentasi 1 jam ongkosnya cukup Rp2.000 - Rp2.100. (Faiz Yajri)

Sumber : http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=2198